Space
Δ Back to Top

menanti salah satu keputusan terberat dalam hidup. jalani saja prosesnya, semua orang berkata. ya, semoga tidak menjadi cinta yang datang terlambat. 

although it’s too heavy, too harsh, and even tough you are so sad, i hope that what you can do is something other than being hurt.
looking for someone to accept and complete my defense mechanism, hahaha. somehow, it’s sweet :)

looking for someone to accept and complete my defense mechanism, hahaha. somehow, it’s sweet :)

Meet the Ends

                Apa sih yang kamu cari dalam hidup?

                Ya, pertanyaan itu yang saya tanyakan beberapa hari lalu. Setelah keluar dari ruang ujian sehabis mempertanggungjawabkan laporan-laporan yang telah saya buat, di situlah saya bertanya. Oke, saatnya introspeksi diri. Douglas Coupland bilang, “The time you feel lonely is the time you most need to be by yourself.” Oke, mengingat tugas-tugas sudah beres, saya memutuskan katarsis dengan melakukan perjalanan keliling Jogja sendiri. Perjalanan ini seakan menjadi me-time sekaligus introspeksi. My psychological state was not good. Well being saya sedang dipertanyakan kesejahteraannya.   

Saya baru saja memulai perkuliahan sekitar tiga bulan yang lalu. Ya, layaknya kuliah pada umumnya, berhadapan dengan dosen, tugas yang datang tiada henti, dan diskusi yang tidak berujung memang mewarnai hidup saya saat ini. Kadang, saya merasa jengah dengan semua tugas dan deadline-nya. Banyaknya tugas bukannya membuat saya bersemangat. Saya malah malas sekali mengerjakan dan banyak berandai-andai, seandainya saya melanjutkan di tempat lain blablabla.. Pada akhirnya, saya menurunkan standar saya dalam mengerjakan tugas. Tidak lagi mengecek typo dalam laporan, tidak lagi mengecek apakah yang sudah saya lakukan sudah benar atau belum, atau sekadar belajar sebelum kuliah dimulai ataupun mengetes orang lain.  Jika mengingat betapa inginnya saya melanjutkan S2 sebelumnya, saya harusnya malu melihat diri saya yang sekarang. Lalu, apa sih yang sedang saya kerjakan?

Pertanyaan ini pasti tidak hanya diajukan oleh saya. Ini adalah kehidupan yang saya inginkan (read: S2), tetapi malah rasanya menyiksa. Apakah kehidupan yang saya inginkan bukanlah yang benar-benar saya inginkan? Lalu, apa yang saya cari dalam kehidupan?

Saya malah bingung sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ada ungkapan bagus dari Stephen King, “get busy living or get busy dying”.  To be honest, I got busy living with the routine, trying to enjoy my daily life without knowing that I got busy dying of it. Nah loh.  

Yah, instrospeksi. Namanya juga siklus kehidupan, kadang di atas kadang di bawah. Kadang bersemangat, ada kalanya juga malas melakukan apa-apa. Pernah ada saat jadi senior, pasti pernah dulunya jadi junior. Ada yang pergi dari kehidupan kita, pasti diganti lagi sama Tuhan orang yang baru untuk mewarnai hidup kita. Kita nggak pernah tahu, nggak pernah bisa nebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Namanya juga misteri kehidupan kan ya? Kita sebagai hamba Tuhan hanya bisa mengintrospeksi apa yang telah terjadi sebagai arahan dalam menjalankan apa yang ada di hadapan kita sekarang. Semua itu kita lakukan guna mencapai tujuan hidup kita.

Introspeksi saya belum berakhir. Masih banyak yang harus saya renungi, am I on the right track?  Lebih jauh lagi saya berpikir, apa ya tujuan hidup saya? Apakah tujuan hidup saya mendekatkan saya pada Tuhan atau malah menjauhkan?

Saya masih belum mengerti. Pertanyaan-pertanyaan tadi belum mendapatkan jawabannya. Tapi, mungkin memang pertanyaan tersebut akan terjawab seiring perjalanan hidup saya dan mungkin kamu juga.

Søren Kierkegaard once said that life can only be understood backwards, but it must be lived forwards.

 

Tamansari, 1 September 2013

Experience is a brutal teacher, but you learn. My God, do you learn..
— CS. Lewis
Untuk hal itu Allah swt mengingatkan kita dalam Al quran “fa iza azzamta fa tawakal Allahu” , kuatkanlah keinginanmu, niatmu, cita-citamu, dan setelah itu beramal utk meraihnya lalu bertawakallah kepada Allah.
untitled.

image

haha, gambar di atas cukup menunjukkan kebutuhan kita kan? :)) ya, sebagai individu yang udah mencapai dewasa muda (orang Indonesia mencapai dewasa lebih lama dibandingkan negeri maju spt US, UK), keutamaannya adalah mencari cinta untuk mengatasi masalah intimacy vs isolation. kalau individu berhasil mengatasi masalah tersebut, dia akan memperoleh intimacy dari pasangannya, tapi kalau gagal? ya mungkin akan mengisolasi dirinya dari kebutuhan cinta. jadi, no wonder ya kalau manusia seusia saya udah mulai galau jodoh pasangan. :p dan mengingat besok adalah hari lebaran, kebayang pertanyaan yang akan diajukan oleh sanak famili adalah mana pasangannya? kapan naik pelaminan? dan sebagainya :))

galau? sedikit. wajar kan ya sesuai dengan umurnya? :))

sebenarnya, yang mau saya ceritakan ya sedikit kegalauan hati saya *ihik*. di bulan Ramadhan ini, ada banyak kabar baik yang saya terima. sahabat-sahabat saya waktu SMP, SMA, dan kuliah akan menikah dalam waktu dekat :D terkejut? pasti. terkejut bahagia, tentunya. mereka adalah sahabat-sahabat saya yang baik, dan pasti Allah berikan kepada mereka pasangan yang baik, aamin ya rabbal ‘alamiin. 

namun, ada yang namanya social learning theory, dimana individu bisa belajar sesuatu yang baru dengan cara mengobservasi orang lain. inilah efek samping dari mendengar orang dalam lingkungan terdekat mau menikah. tiba-tiba kepikiran sendiri kapan ya saya nyusul si A, atau pasangan saya nanti seperti apa ya. nah lho jadi galau kan? :p padahal saya tahu diri, ilmu yang harus dipersiapkan masih jauh dari cukup, kalo masalah pasangan yah ntar bisa dicari, hehehe :D

..wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).. [QS. An-Nur:26]

 Allah bersama prasangka hamba-Nya, insya Allah :)
chance.

"lysa sekarang udah ga suka nangis lagi ya?" kitty tiba-tiba nanya hal tersebut di 1 kesempatan.

iyaya, dulu segitu cengengnya berarti, haha :p but, people change, circumstances change, right? circumstances develop people to change, imo :))


sebenernya pertanyaan yang diajukan teman tadi merujuk pada gagal (lagi) masuk profesi psikologi UI. ya, 2 kali tes profesi, gagal maning gagal maning. gagal pertama kali, I named it downfall saking sedihnya. kalau diinget-inget periode itu, ya ampuun. 2 minggu nangis terus, males keluar ketemu temen-temen, pulang ke Bandung kerjaannya ngurung diri di kamar. “ya ampuun, anak mama udah jadi kuncen” sindir mama waktu itu. ya males ngapa-ngapain, bawaannya nyinyir, sebel sama orang yang keterima. astagfirullah, emang ya kalo lagi down, setan gampang aja masuk. padahal apa salahnya ya yang keterima, wong usaha masing-masing, doa juga masing-masing :p kebayang kan jeleknya gimana waktu ga keterima pertama kali.

Makanya ketika gagal buat kedua kalinya, temen-temen pada ga berani nanyain bahkan untuk nanya kabar aja dikiit bangeet :p mungkin udah pada tau kali ya, pas gagal pertama kali segimana saya menghindarnya :)) haha, the fact is pas tau gagal ya nangis.. kecewa lah. tapi ga lama, siangnya karena ada janji ke manggarai dan ngedrilling hemas buat skripsinya mau ngga mau harus hapus air mata, put back the smile on the face :) ya nangisnya, kecewanya, cuma +/- 1 jam. saya harus merancang lagi hidup saya abis kegagalan. ya, I learned from the experience, tough. gagal di UI 2x mungkin jalan dari Allah buat nunjukkin hei lysa, rejeki kamu mungkin di tempat lain.      

sebenernya kekuatan bangkit pas gagal kedua ini juga disponsori oleh ibu Prof yang mewawancarai saya pas tes tahap akhir. pas interview bu Prof jelas-jelas menentang saya dengan bilang, “emang ga ada teman kamu yang pernah bilang sama kamu kalau kamu ga cocok jadi psikolog? saya akuin kamu pintar, tapi ga cocok jadi psikolog” dingdoong~ saya langsung terkesiap, nangis saat itu juga di depan ibu Prof itu. hmm, bukan karena ucapannya (yah, sedikit sih karena ucapannya juga sih, hehehe) tapi lebih karena iya yaa, selama ini saya selalu mikir hasilnya setelah jadi psikolog tanpa pernah mikir kalau yang diperlukan untuk jadi psikolog adalah prosesnya. orang-orang mikir saya cocok banget jadi psikolog yang akhirnya membuat saya jarang ngelatih empati saya, kemampuan mendengar aktif, dan sebagainya. itu mungkin yang keliatan sama ibu Prof tersebut yang bikin saya tersentil. keluar dari ruangan tempat wawancara, saya mikir kalau saya lulus S2 ini  berarti saya lewat ujian ibu Prof, kalau saya ga lulus berarti jodoh saya ga sama ibu Prof. itu aja pikiran saya, diselipkan doa, mudahkan kedua prosesnya ya Allah.

bener aja, hasilnyaa ditolaak. haha, berarti saya ga jodoh jadi muridnya ibu Prof itu. Tapi perjuangan ga boleh berhenti doong. Pekerjaan saya saat ini bikin saya tekanan bathin kalau cuman stuck di S1. emang, lulusan S1 ga disiapkan di setting klinis dan saya sangat perlu upgrade ilmu. UI masih buka 1 gelombang pendaftaran lagi berbarengan dengan UGM. Saya mikir panjang tentang plus-minusnya, ditambah keengganan nyoba di UI lagi :p akhirnya saya mantap nyoba di UGM. ga mantep-mantep juga sih, karena saya ga belajar sama sekali. Saya baru megang buku pada hari keberangkatan saya ke Jogja which means H-1 tes. Bukannya saya males, tapi load kerjaan di kantor lagi banyaak sekali mengingat itu musim liburan. Untuk makan aja nyuri-nyuri waktu, saking banyaknya klien. pulang ke kosan udah tepar tanpa sempet belajar.       

pas hari H tes di UGM, dingdoong. tes teorinya bikin saya bingung. banyak yang ga dipelajari waktu saya S1. saya bukan mahasiswa yang sering bolos ataupun malas mendengarkan kuliah. jadi bagi saya, memang banyak kok materi yang ga dipelajari di psikologi UI. mental breakdown langsung pada tes pertama :)) tes masih panjang, masih ada sekitar 5 tes lagi. saya langsung inget mama sm papa yang udah nemenin ke jogja, papa di masa sibuknya bela-belain nganter ke Jogja sampe kelimpungan ga dapet tiket pulang, mama yang tiap kali ke luar kota pasti pulangnya sakit. yah dari situ, saya mikir, baru masalah teori aja udah nyerah, teori mah perkara gampang bisa dicatch-up. setelah tes pertama, emang tesnya berkutat di kepribadian, masih ngomongin teori tapi dengan cara yang bisa nonjolin kepribadian individu. Bismillah, kalau rejeki insyaAllah Allah akan mudahkan jalannya.

ternyata memang rejekinya lanjut kuliah lagi di UGM :) mohon doanyaa, bismillahirrahmaanirrahiim :)

 

But they plan, and Allah plans. And Allah is the best of planners.

(QS. Al-Anfaal: 30)